Di kedalaman matamu, aku lihat hamparan pasir lautan
menyerap buih-buih riak gelombang. Di kilau parasmu berjuta cahaya memecah,
membutir-butir di pekatnya langit. Desau angin mengusapmu dengan
ingatan-ingatan tentang kisah kita.
Kau berdiri bersedekap, merindu pelukan. Seperti
berpuluh-puluh pasang anak manusia yang saling mendekap, melumat, dan
berguling-guling di pantai, tanpa pedulikan kesedihanmu. Mungkin juga kesedihan
suami, istri, pacar, mertua, anak, saudara yang menunggu mereka di rumah.
Lantas kau biarkan bening telaga sunyi tertumpah di kelopak matamu. Hangat
merasuk bibir.
Kau tetap berdiri membiarkan syal yang terikat di leher
jenjangmu melambai-lambai, sesekali berhenti semampir di pundakmu. Ah, ada saja
yang membuatmu teringat aku. Lagu itu. Lagu yang dilantunkan pengamen berwajah
negro, berambut gimbal itu, menggetarkan ingatan. Petikan gitarnya sebening
danau matamu. Lagu lama itu sering kita lantunkan di pantai ini, jika jingga
menoreh senja, dan deru ombak mengiring pulangnya para nelayan.
Arini, kau tak mengira. Dari jendela penginapan, ada
seraut wajah penuh sesal menghadap, menembus hingga ke pantai, di mana kau
berdiri. Tapi tiba-tiba dari belakang sosok lelaki mendekatinya, mendekap
paksa. Kemudian malam menjadi jahanam baginya. Badcover telah kusut oleh
pemberontakan, dan darah mengucur mengakhiri nafasnya. Lelaki itu lantas pergi
ke sebuah kota yang jauh dari pantai ini.
....Perempuan tanpa identitas ditemukan mati misterius. Pembunuh tidak meninggalkan jejak. Diduga pembunuh adalah pacar korban...., berita untukmu.
....Perempuan tanpa identitas ditemukan mati misterius. Pembunuh tidak meninggalkan jejak. Diduga pembunuh adalah pacar korban...., berita untukmu.
***
¨Yok, dari rekaman suara ini, dipastikan korban dibunuh!
Mustahil kalau bunuhdiri!”seru Pak Kepala Satuan Reskrim tempat di mana ku
bertugas. Semua itu hanya untuk mengelabuhi kita, bahwa pelaku adalah pacar
korban!¨
¨Maaf, Pak saya harus cuti!¨
¨Jangan dulu! Ambil cuti lain kali saja! Ini sangat
urgen! Bayangkan sudah tiga tahun kasus ini belum terungkap. Pelaku lebih lihai
dari para teroris yang berhasil kita tangkap!¨
Hari ini juga aku harus SMS isteriku, bahwa rencana
piknik ulang tahun anakku batal. Segala risiko harus kutanggung. Omelan istri,
protes anak biarkan saban hari kudengar, kubaca, dan mengorok kotoran telinga.
¨Hanya dengan jendela kantor aku berbicara dalam
imajinasi sunyi. Tapi sering kali aku terganggu saat dari gerbang halaman masuk
seorang perempuan secantik Arini yang ditemukan mati telanjang. Tapi kali ini
tangannya diborgol. Oh, pagi yang cerah....
***
Pembunuh itu juga tidak mungkin ketemu. Aku begitu yakin
sebab tak ada lagi jendela sunyi. Semua riuh. Banyak orang-orang bergegas,
terbunuh, dibunuh, diburu, menerocos, merayu, membujuk, merangsang, berbaju
malaikat, telanjang, fitnah, bencana, keringat, airmata, kota, hutan, pesisir,
bantaran kali, lereng gunung, lautan lumpur, seruan perang..ahhh..mungkin ia
bersembunyi di antara keriuhan itu?
Jendela sunyi hanya kutemukan ketika aku terdiam di
ruangan pengap ini. Dengan tangan yang diborgol, dengan jeruji besi yang
menghadang. Di jendela sunyi inlah, aku bisa melihat Rastri, dan Lintang,
anakku menunggu di pintu rumah, menyambutku gembira, dengan secangkir kopi susu
hangat, sepiring nasi goreng telur udang, dan burung perkutut teras rumah yang
sejuk meniupkan merdu.
Dan di jendela sunyi itulah, aku melihat Romo Smith memimpin
misa paskah, di antara lilin perkabungan yang menusuk seribu sesal dosa, raut
sedih Isa di kayu penghakiman, dan berseru..Eloiiii..Eloiii.....
Sipir menghampiriku. Ia membuka kunci pintu, lantas
membawaku ke luar dengan kondisi masih terborgol. Ternyata di ruang besuk,
Frater Sapto, teman sekelas semasa SMAku menjenguk.
¨Semoga Tuhan mengampunimu! Kenapa kau bunuh mereka? Apa
salah mereka?¨
Saya linglung.
¨Tidak mungkin!!!Tidak mungkin!!!¨
¨Anak, istri Anda sendiri...Anda tega?¨ tanyanya lagi
dengan halus, membuatku sungkan dan menganggapnya sudah bukan lagi teman
sekelas yang saling mencaci maki. Melainkan calon pastur karismatik yang
disegani.
¨Anda sadar tidak?¨
¨Tidak mungkin!!!!¨ berat aku mengatakannya. ¨Tangan
saya..ohh..oh..bergerak sendiri...eh..bukan...maksud saya...saya seperti
pingsan...jendela itu terlalu riuh, bising, menakutkan, berahi, dan ...
¨Mintalah ampun dalam doa kita, mari!!!¨ ajaknya.
Selebihnya gelap. Frater Sapto, Suster Rebeca, Romo Smith, Patung Isa, Bunda Maria, Kidung Liturgi, Nyanyian Sekolah Minggu, mengajakku menari dalam dunia yang semakin jauh kugapai semula, ketika jendela masih sunyi. Ketika hymne perkabungan Kristus mengusap jidatku pelan-pelan.
Selebihnya gelap. Frater Sapto, Suster Rebeca, Romo Smith, Patung Isa, Bunda Maria, Kidung Liturgi, Nyanyian Sekolah Minggu, mengajakku menari dalam dunia yang semakin jauh kugapai semula, ketika jendela masih sunyi. Ketika hymne perkabungan Kristus mengusap jidatku pelan-pelan.
Selebihnya lagi, dooor...dorrr.dorrrr..desingan peluru
menghantarkanku pada ruangan gelap berjendela sunyi. Aku lihat di sekitar liang
kubur sudah dipenuhi para wartawan, dan teman-temanku di markas. Namaku
tertulis dalam salib kayu putih penanda kuburan. Bungai..bunga mawar
menyelimuti. Selebihnya jendela sunyi.
Entah sampai kapan?
Mrican, 24 Maret 2009
0 Response to "Jendela Sunyi"
Post a Comment