Kaki telanjang para penunggang kuda berderap
menyuarakan degub yang tak beraturan, menebarkan debu-debu kemarau di
perempatan jalan tak beraspal. Mereka berputar, melompat, mengeluarkan
jurus-jurus. Kuda-kuda yang gagah, gesit, ulet, binal dan liar menantang dengan
ringkikan seraya mengangkat kaki depannya ke atas. Untung penari itu memegang
erat kuda kesurupan itu. Kalau tidak, mungkin kepala kepala mereka terbentur
tanah.
Kuda-kuda yang lincah dan luwes. Tak berang, lemah dan
putus asa, ketika prajurit menekuk-nekuk, mengangkat, memutar balikkan
tubuhnya. Terkadang rebah, tengkurap ditindih kekar tubuh para prajurit yang
hendak menyerang segala gerbang pertahanan.
Mbok Dumilah hanya bisa bergumam dengan kata-kata yang
tidak jelas. Manggut-manggut kepalanya mengikuti irama gamelan yang ditabuh di
belakang lingkaran arena pertunjukan. Betapa ia hanyut dalam permainan gesit
para prajurit yang telanjang dada, berkeringat. Kerik Bariyah malam itu
ternyata kalah manjur dengan tabuhan gamelan dan geliat para penari menyembur
hangat tubuhnya yang sehari kelelahan menggendong seikat karung berisi pakaian
bekas pantas pakai dan grosiran.
Setiap malam purnama tiba ia terbiasa menutupi dadanya
hanya dengan kutang kumal berwarna cokelat tua. Diselipkannya uang puluhan ribu
di balik hangatnya kutang untuk membeli makanan kecil atau minuman. Sembari mengunyah
kacang rebus dan mereguk segelas jahe gepuk
buatan tukang wedang handal, Narto Kijing, ia menonton atraksi itu.
“Mana Grandong? Kenapa tak datang juga?”
“Mungkin ketiduran Mbok, mungkin juga lupa, lha wong Grandong itu suka lupa kok,” jawab Yu Bariah sembari terus
menggosok punggung Mbok Dumilah dengan uang logam, hingga merah gosong
kulitnya. Aroma khas balsam cap kadal membuat penonton di sampingnya sedikit
menyingkir. Selintas perempuan itu menatapnya, namun segera kembali konsentrasi
menatap geliat jungkir balik para prajurit kuda.
“Masa ia lupa, ini malam bulan purnama?”
Mbok Bariyah tak menjawab, ia terus konsentrasi dengan
punggung Mbok Dumilah. Rupanya masih separo lagi punggung yang harus dikerik.
Sedangkan punggung kanannya sudah penuh dengan goresan merah seperti macan
loreng.
“Aduh pelan-pelan, nduk!”
”Bentar Mbok, ini jalan angin nih..naaahhh gosong, kan?” jawab Bariyah
sembari terus menggosok bagian bawah ketiak keriput Mbok Dumilah.
“Mana?” tukas Mbok Dumilah seraya memutar lehernya
menengok sedikit hasil lukisan punggung itu.
“Jangan lama-lama!”
“Sebentar Mbok, ingin sembuh tidak?”
“Aku ingin segera bertemu Grandong.”
Seperti malam bulan purnama biasanya, Mbok Dumilah
melewatkannya dengan menonton pertunjukan tari-tarian tradisional di perempatan
jalan. Tak jarang, malam itu dijadikannya kesempatan bertemu dengan Grandong,
pacarnya. Jika bertemu dengannya, purnama kembali menyirami wajahnya dengan
cahaya-cahaya, hingga tak nampak di mata Grandong, Mbok Dumilah adalah janda
berumur 70 tahun.
Mata Grandong seperti tertutup mata dhemit, begitulah orang-orang desa
mengatakan. Mbok Dumilah hanya terkekeh-kekeh jika dicemooh teman menontonnya
di perempatan jalan itu. Rambutnya memutih perak mengkilapkan cahaya bulan
hingga seperti mengeluarkan sinar gaib, tak malu-malu ia ungkapkan
rahasia-rahasia ranjang mendiang suaminya, di depan Mbok Giyem, Mbok Narti,
Mbok Tukinem, Mbok Sartiyah, dan Mbok Peni. Masing-masing bercerita bergantian
sambil menunggu pertunjukan dimulai.
Jika melihat isi kutang mereka, berlembar-lembar uang
seribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan, lima puluh ribuan dan seratus
ribuan kumal terselip di dalamnya. Meski demikian, mereka tak mau membeli
laki-laki.
“Suatu saat aku ingin datang di kuburan suamiku, tidur
dengannya, jika perlu aku bongkar nisannya dan kutemukan jasadnya lantas tidur
dengannya. Ah, angin kemarau
dingin meniup merasuk ke dalam tulang, aku bisa pura-pura masuk angin. Pasti
dia mau ngeroki aku…he…he..”
Bersama sekelompok ngerumpi itu, Mbok Dumilah terkekeh-kekeh lantas
terbatuk-batuk, mengeluarkan dahak kental berwarna kecoklat-coklatan kemudian
terinjak kaki orang.
“Mana Grandong?”
“Belum datang juga.”
“Ediiian,
pasti dia ke rumah Murtinah. Dasar kurang ajar, awas nanti kalau minta jatah
rokok. Ngga bakalan aku ngasih.”
Keinginan bertemu Grandong, tak bisa hilang begitu saja.
Padahal Grandong kerap kali tertangkap polisi saat bersama Murtinah di Hotel
Mawar Berduri belakang terminal transit bus antar kota yang masih 10 kilo jika
ditempuh perjalanan. Karena perbuatan mesum itu diketahui hingga tersebar di
koran-koran, Grandong akhirnya harus dikeluarkan dari tempatnya bekerja. Kampus
swasta yang terletak di perbatasan desa itu rela melepas Grandong sebagai
pembuat teh ternikmat. Dari karyawan bawah sampai rektor, hasil karya Grandong
dalam mengaduk teh memang terkenal. Pernah suatu kali Pak Rektor menawarinya
modal usaha warung minuman atau wedhangan,
namun dasar pemalas, Grandong menolaknya dan lebih suka melewatkan sisa waktu
untuk bermain judi di pos ronda atau pasang togel secara sembunyi-sembunyi.
Kini ia kerja serabutan sebagai tukang cat, mengisi tempayan, atau membersihkan
rumah saat akan diadakan hajatan.
***
Mbok Dumilah tetap mencintai Grandong. Jejaka desa itu
sangat menurut jika diajak bercumbu rayu. Apalagi di bawah temaram purnama. Di
bawah pohon waru yang bergoyang ditiup angin kemarau. Panjang sebahu rambutnya,
ompong giginya sisa pemukulan polisi, menyatu menjadi pesona temaram malam di
kuburan itu.
”Grandong, aku amati wajahmu mirip Bapak. Aku rindu
dengan Bapak,“ desah Mbok Dumilah seraya menggandeng erat kedua telapak tangan
Grandong. “Grandong, kamu yang membuat aku tak lagi berniat membongkar kuburan
Bapak. Karena aku ingin sekali dikeloni.”
Namun belakangan rasa bencinya terpaksa muncul di balik
rasa rindu setebal bedak di mukanya yang keriput, setebal gincu merah yang
menempel di bibirnya yang tebal. “Bajingan! Tengik! Srinthil Wedhus! Laki-laki cluthak!”
serunya seraya menampar pipi Grandong. Dijambaknya rambut Grandong hingga
berantakan tak beraturan. “Bagaimana lagi, Mbok?
Murtinah kadung hamil dua bulan, dan aku harus menikahinya. Aku tak bisa kabur.
Kakaknya sudah mengancamku,” jawab mulut hitam Grandong seraya mengguncang
pundak Mbok Dumilah yang menangis di pelukannya.
“Baiklah Grandong, berapa besar uang yang kau butuhkan
untuk melamar Murtinah?” tanya Mbok Dumilah seraya mendongakkan muka, menatap
muka Grandong yang hitam berminyak. Grandong menggeleng. “Jangan malu-malu, apa
saja itu urusanku. Susukan tukon
dan sanggan, biar aku urus.
Jangan kau pikirkan aku. Aku ikhlas!”
Pertemuan mereka berlanjut di tempat-tempat keramat.
Hanya di tempat itulah mereka bisa aman bertemu. Tak ada satu pun yang
mencurigai hubungan mereka. Bahkan setahu teman-teman sebaya di dusun, hubungan
mereka sudah terputus dengan pernikahan Grandong. Suatu malam Makam Rejoloyo
yang biasanya dipenuhi pemabuk sepi. Rembulan nampak tersenyum menatap Grandong
dan Mbok Dumilah berpelukan di bawah pohon kamboja. Aroma wangi rambut Mbok
Dumilah dan Kamboja di pemakaman luas itu membuat Grandong semakin terlena
dengan wajah keriput yang terang disinari rembulan itu. Anjing melolong
panjang, mereka semakin erat berpelukan. Cinta itu semakin lama terpupuk,
menebal, tumbuh dan berbuah pada keberanian Mbok Dumilah melabrak Murtinah.
Murtinah tak berani melarangnya menggandeng Grandong dari rumahnya. Ia memang
nekat, hingga tak ada satu pun jawara desa yang berani melawannya. Bahkan dukun
santet sekali pun. Sejak itu Mbok Dumilah tak lagi malu berteriak memanggil Grandong
meski berada di keramaian, seperti pertunjukan malam bulan purnama ini.
***
“Itu Grandong, Mbok!” seru Yu Bariah. Malam purnama yang
indah. Lelaki itu seperti prajurit yang segera menunggang kuda dan memacu
kudanya hingga meringkik berlari kencang meniti jalan-jalan setapak puncak
Merapi. Grandong membisu, ia hanya duduk mendampingi Mbok Dumilah. Menatap
tari-tarian yang kembali dimulai setelah istirahat lantaran para prajurit
kesurupan.
Degup jantung Mbok Dumilah berdetak kencang, begitu para
prajurit telanjang dada itu melenggok-lenggok gagah, kakinya menginjak mantab,
seperti menembus bumi. Kuda-kuda gesit itu tiba-tiba saja mencelat keluar dari
arena pergelaran. Mata para penari mulai memerah. Mulut-mulut mereka terbuka,
menyemburkan api-api. Api-api yang menyengat dan menyilaukan.
Kuda-kuda gagah yang terlempar. Kegesitan, kegagahan dan
keuletan terbuang. Hangus tersulut semburan-semburan api. Candi-candi ksatria
pribumi runtuh, dihanguskan mulut-mulut yang meludahkan panjang semburan api ;
meliuk-liuk membakar bendera negara yang berkibar setengah tiang di depan rumah
kepala desa. Semburan-semburan itu membakar daun-daun kering, pohon-pohon
bambu, beringin, rumah gubuk, rumah berdinding kayu dan rumah-rumah loji serta
rumah-rumah ibadah. Tak ada lagi mantera sakti, tak ada lagi doa-doa menyiram
di tengah penonton yang mulai dahaga. “Air, air, mana air?” teriak mereka
seperti kesurupan. Ludah-ludah pengganti air minum telah terkuras.
Keringat-keringat asam juga tak dapat lagi keluar dari pori-pori tubuh, karena
menguap. Asapnya meliuk-liuk membentuk gambar serigala.
Orang-orang terbakar. Mereka histeris, mencari debu-debu
untuk memadamkan api yang menjalar di tubuhnya. Namun debu-debu telah hangus
dan masih merah membara. Mereka saling menabrak meremukkan tulang-tulang. Desa
telah hangus terbakar. Jilatan lidah-lidah api itu kian memucuk di atas tiang
bendera yang masih kokoh. “Mana airrrrr!” mobil pemadam kebakaran terlampau
jauh dijangkau. Bendera api berkibar meliuk-liuk ke atas seperti menara emas.
Api melabrak kutang Mbok Dumilah hingga hangus terbakar.
Dengan tubuh gosong dan kulit mengelupas telanjang bulat,
Mbok Dumilah berjalan tertatih-tatih menuju barisan para prajurit di bawah
tiang bendera api. Ia bertekad meredamkan baju-baju api para prajurit dengan
ludahnya. Tak segan-segan dan tanpa malu-malu, ia mengencingi tiang bendera
api. “Ijinkan aku memadamkannya, sebab tak ada lagi air bersih yang bisa
diminum, dipakai mandi, apalagi menyirami kembang supaya subur. Semua telah
menjadi debu. Semua menjadi arang,” kata Mbok Dumilah, “Air kencingku ini
murni. Tak ada ideologi atau paham-paham kosong yang dicipta menjadi
lidah-lidah api.”
“Mbokkk! Mbok Dumilah!!!!” seru Mbok Giyem, Mbok Narti,
Mbok Tukinem, Mbok Sartiyah, dan Mbok Peni seraya menggoncang-goncang tubuhnya.
Seluruh penonton berkerumun menyaksikannya setelah tari usai dimainkan.
Tangan-tangan mereka tak kuasa lagi memegang tubuh Mbok Dumilah, sebab ia masih
berteriak, mencaci maki dan menendang-nendang tak tentu arah. Sesaat tubuhnya
yang semula kaku, berangsur lemas. “Mana Grandhong?” katanya dengan nada berat
dan serak. “Grandhong sudah pulang, lupakanlah!” jawab Mbok Peni. Mbok Dumilah
menghela nafas panjang.
“Aiirr?”
Mbok Giyem memberikan air putih botol yang dibungkus
dengan tas plastik. Mbok Dumilah menenggaknya hingga habis.
“Ahhhhh.”
Angin sejuk malam itu meniup tubuh Mbok Dumilah yang
bercucuran dengan keringat. Perlahan ia bangkit. Mulutnya menyemburkan api.
Solo, Mei 2007
(Jawa Pos, 5 Desember
2010)
0 Response to "Tarian Menunggu Grandong"
Post a Comment