Teste Teste Teste

Pengubur Cincin



1Strange how
My heart beats
To find my self upon your shore
Petang merayapi langit yang menorehkan bias di riak-riaknya bengawan. Aku lihat Surani melangkah pelan menuju bantaran kali yang penuh rerumputan liar yang menjulang hampir satu meter tingginya. Dengan cangkul kecil, ia menggali tanah yang semalam diguyur hujan. Di masukkannya sebuah kotak berisi cincin ke dalam lobang itu.

Mungkin lantaran tidak percaya begitu saja dengan omongan para tetangga, aku memberanikan diri mengikuti ke mana perginya. Dan memang benar, ada ritual khusus yang dilakoninya. Dengan tetap menguntitnya dari belakang, aku menyaksikan lakunya yang tak seorang pun tetanggaku tahu.

Sore yang sejuk selalu menjadi pilihannya untuk meratapi kesendirian yang syahdu.   Sering aku melihatnya sendiri berjalan dari kelas pascasarjana, menuju boulevard.  Kesedihannya begitu kentara, tat kala kudengar nyanyian sedih dari bibirnya yang mungil dan ranum. Begitu erat ia dekap sebuah buku besar, seperti mendekap lelaki yang telah lama dirindunya. Seandainya arwah suaminya merasuk ke dalam buku itu, pasti setiap kata yang terukir di dalamnya seperti mantera cinta yang hidup.

And so this where I should be now
Days and nights falling by
Itulah lagu yang kerap dinyanyikannya sembari terus menatap jalan yang dipenuhi rerimbun hijau pepohonan. Dibiarkannya hujan bunga-bunga pohon maoni yang berguguran menghinggapi sela-sela rambut, dan mengotori kemeja putih yang dikenakannya. Dari sanggar teater fakultas yang kerap kupakai nongkrong setelah seharian liputan sembari menunggu dosen untuk konsultasi skripsi itulah, aku sering menyaksikan kesedihan yang artistik, serupa performance art yang nampak nyata.
***
“Surani, kau perlu diruwat!” kata salah satu sesepuh kepadanya. Dengan harapan lelaki yang kelak menjadi suaminya tak lagi menemui ajal ; tanpa sakit-penyakit, tanpa sebab yang jelas. Surani hanya menggelengkan kepala, memalingkan muka ke arah kami. Terus terang status jandanya membuat kami sedikit kikuk menghadapi keluhannya. Pantas, karena Surani, perempuan asal Ngadirojo Wonogiri itu masih berumur 27 tahun, dan tidak kelihatan sudah sepuluh kali menjanda. Apalagi statusnya sebagai mahasiswa, yang bagi warga kampung memiliki nilai lebih dari pada hanya tamatan SMA. Konon usai lulus SMA, ia sudah menikah. Namun dua bulan kemudian, suaminya mati. Begitu seterusnya, hingga perempuan berkulit putih bersih, berhidung mancung, dan berbirir ranum itu menunggu beberapa bulan kemudian untuk menikah lagi. Untuk melupakan duka, ia selalu berpindah-pindah kontrakan rumah bersama suami barunya.
“Dari visum dokter, tidak ada tanda-tanda kecelakaan, keracunan, sakit-penyakit, atau pembunuhan!” kata Kapolsek setempat kepadaku saat aku minta keterangan tentang kematian suami Surani. “Jadi tidak benar kalau kesepuluh suaminya itu mati dibunuh!”
“Tidak ada bukti yang menguatkan! Visum itu sangat akurat! Para ahli memiliki kode etik sendiri kan? Seperti Anda, wartawan,” tegasnya sembari menyalakan rokok.

Terus terang aku ingin segera berhenti menulis tentang riwayat Surani dan kesepuluh suaminya yang tewas dua bulan setelah menikah. Namun semua itu baru diketahui warga setelah suami terakhirnya, Bagaskoro meninggal. Karena di kampung, Surani termasuk warga baru yang masih memakai KTP lamanya. Baru sebulan ia mengontrak di rumah tetanggaku. Jadi belum ada yang tahu tentang riwayat sebelumnya.

Meskipun pernyataan Pak Kapolsek berwajah artis ibukota itu membuatku jadi malas melanjutkan kisah ini untuk menjadi feature bersambung, namun aku justru semakin akrab dengannya. Dugaanku bahwa kemungkinan Surani adalah seorang psikopat pupus sudah. Setiap sore sepulang kuliah, aku menawarinya tumpangan sampai ke rumah kontrakannya yang kebetulan satu kampung denganku. Surani, yah, nama yang sederhana namun renyah jika diucapkan, apalagi ketika menyapanya. Sayang sekali, perempuan secantik itu harus berkali-kali menjanda dalam usianya yang begitu muda. Ada sedikit simpati kupendam. Statusnya sebagai janda bukan akibat dari pihak ketiga. Artinya cinta itu benar-benar dipisahkan oleh maut, seperti ajaran agama yang selama ini kuanut.
"Ingin punya isteri janda?" canda Ibu.
"Ah, jangan berpikir yang macam-macam, Bu!" jawabku sedikit kesal.
Bukan sekadar mengantarkan pulang. Setiap malam sehabis memenuhi deadline berita, aku sering kencan dengannya bertemu di warung tenda yang berjajar sepanjang jalan selatan Benteng Vasternburg. Di tempat itulah aku berusaha memancing pembicaraan yang menjurus kepada misteri kematian kesepuluh suaminya itu.
"Apakah kamu setuju, jika aku harus diruwat?" tanyanya mematahkan pembicaraanku.
"Aku belum tahu, apa penyebab kematian itu?"
"Apakah seorang perempuan yang suaminya mati selalu dikatakan..." jawabnya dengan suara berat.
"Ya, dalam kepercayaan masyarakat kau harus diruwat. Konon, maaf.." Aku menghentikan pembicaraan karena ujung matanya sudah menitikkan airmata. Perempuan yang belum lama akrab denganku tiba-tiba harus mendengar informasi yang bisa jadi dianggap melecehkannya. Mustahil. Bagaimana mungkin mahasiswa S2 seperti dia terima begitu saja dikatakan, bahwa rahimnya dihuni ratusan binatang berbisa seukuran sel yang menggerogoti kemaluan suaminya setiap kali bersetubuh?

Namun, ada sedikit alasan yang memberanikan diriku untuk mengatakannya karena aku juga sering memergoki para dosen, politikus, dan pengusaha menggelar ritual seronok di Gunung Kemungkus demi mempertahankan kekayaannya. Bahkan rata-rata yang datang di tempat-tempat keramat itu malah dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogja, Semarang. Jadi bagi mereka ritual tidak semudah menulis reg ramal, reg weton, reg primbon, lantas mengirimkannya ke nomor provider yang di belakang meja ngiler-ngiler menghitung keuntungan dari berjuta-juta pengirim. Wajah-wajah mereka tidak asing bagiku. Mungkin sebagian pernah aku wawancarai. Aku juga semakin percaya diri mengatakannya karena mengingat desa kelahirannnya yakni Ngadirojo Wonogiri. Bukankah di kota para perantau itu masih kental dengan kepercayaan yang berbau mistik? Bisa jadi, wajahnya serupa orang-orang kota, namun kepercayaan yang ditanam turun-temurun tidaklah mudah digerus jaman.
"Jika aku terpaksa diruwat, kalau boleh tahu, bagaimana caranya?"

Belum sekecap menjawab, rasa sungkanku begitu menyergap. Mana mungkin aku harus terus terang mengatakan, bahwa dia harus duduk jongkok tanpa celana, sedang dibawahnya mengepul asap dari ayam kampung yang dibakar, untuk mengeluarkan binatang-binatang berbisa itu. Apalagi memintanya memberikan bukti bahwa ia punya tahi lalat atau tembong pada bahu kirinya. Tentu aku harus jadi suaminya terlebih dahulu.
***
"Itu semata-mata untuk mengusir beberapa hal, atau makhluk yang hinggap di dalam tubuh Dik Surani," kata Ki Aryo Pangapuro yang konon masih trah Majapahit. Surani hanya diam seribu bahasa. Pucat wajahnya mengisyaratkan penolakan terhadap ritual tersebut.
”Dik Surani tidak perlu malu, ritual ini cukup Dik Surani sendiri yang melakukannya.”
”Baik, Ki. Malam Jumat Kliwon nanti saya siap diruwat,” kata Surani. Kemudian menggandeng tanganku keluar dari rumah sesepuh kampung itu.

Ki Aryo Pangapuro sejak dulu memang dikenal sebagai orang pintar yang selalu membantu orang yang sedang dilanda masalah. Mulai dari ekonomi, jabatan, pekerjaan, jodoh, sampai urusan seksual, meski ia sendiri belum beristeri, hidupnya sangat sederhana. Mungkin itulah yang menjadi panggilannya dalam mengarungi hidup ini. Segala penderitaan yang diderita orang ditanggungnya, layaknya mesias.

Malam Jumat pun tiba. Bersama ibu-ibu, dan beberapa sesepuh, kami menunggu Surani yang katanya siap untuk diruwat. Sampai jam enam berlalu, usai magrib menggema, kami mewajarkan keterlambatannya. Begitulah jam tujuh lewat, selepas isya, Surani tak juga muncul.
”Tapi sanggup kan?” tanya Bu Rt
”Sanggup, tapi tidak tahu, kok belum datang-datang juga?”
”Kuliah?”
”Setahuku, kamis tidak ada jadwal!”

Untuk melepaskan kebosanan menunggunya, kami menyantap beberapa makanan kecil seperti kacang kulit, pisang rebus, keripik melinjo, dan menyeruput segelas teh hangat yang dihidangkan Bu Rt.
”Kalau masalah teh, Bu Rt ini memang jagoannnya,” puji Ki Aryo Pangapuro.
”Ah, Ki.”
”Lho, ini benar, bisa jadi kalau Bu Rt buka wedangan, pasti laris. Wedangan Si Jum di alun-alun bisa sepi karena mantabnya Bu Rt,” sahut Wagiyo.
”Huss!!” seru Ki Aryo. ”Teh ramuan Bu Rt. Apalagi wedangannya ada macam SPG segala.”
”SPGnya Dik Surani!”
Husss!! Mentang-mentang duda, pengen cari yang senasib?”
Tawa bersahutan memecah keheningan dan kebosanan menunggu Surani untuk diruwat. Apa mungkin ia membatalkan? Bisa jadi, pikirku. Mungkin ia malu dituduh secara halus, sebagai perempuan pembawa sial, malapetaka. Mana mungkin calon Sarjana S2 kok mau-maunya diruwat?
Hingga jam sembilan, Surani tak juga datang, dan puncaknya, tengah malam kami akhirnya membatalkan ruwatan itu.
”Biar ingkungnya digoreng saja, besok kita bagi –bagikan!”
”Ah, lha wong cuma seekor kok dibagi-bagikan,” sahut Bu Rt.
Pagi hari kami dikejutkan dengan rumah Surani yang ternyata sedari malam kosong. Kami mulai menaruh curiga. Jangan-jangan ada apa-apa dengan Surani. Tinggal rumah sendiri dengan barang-barang mewah yang masih tersedia kerap kali menjadi sasaran para perompak. Kami sepakat mendobraknya. Dan kami lihat di dalamnya, tidak ada satu pun benda-benda tersisa, keciali almari, dan beberapa ember, serta kitchen set.

Sejak saat itu Surani tak lagi terdengar riwayatnya di kampung kami. Kontrak rumah belum setahun sudah ditinggal, membuat pemilik rumah tak berani mengontrakkannya lagi kepada orang lain, menunggu batas waktu yang telah dibayar.

Kami sepakat melupakan Surani. Di kampus, aku juga tak pernah melihatnya. Beberapa teman kuliah, dosen, dan pemilik warung pecel langganannya pun mengaku tak pernah melihat, apalagi bertemu dengannya. Memang aku harus memupus rinduku kepada Surani. Meskipun jika mau jujur aku merasa kehilangan dirinya. Perempuan yang dituduh memiliki dua kepribadian, manusia dan iblis.
***
Sayup-sayup nyanyian sedihnya kembali terngiang di telingaku. Tapi rerumputan bantaran Bengawan malah terlihat riang disiram langit sore. Mungkinkah aku harus ke tepi bengawan menunggunya? Siapa tahu, ia sudah mendapatkan pengganti Bagaskoro, yang kemudian mati. Ada  setitik harapan, aku melihatnya sedang mengubur cincin pernikahan terbarunya, dengan suami baru. Ah, mana mungkin, Surani mempercepat pernikahannya. Rasanya terlalu bodoh jika aku berpikir demikian.

Huhhh....Aku memang harus kehilangan Surani. Dalam pengakuanku, malam ini, Surani telah hilang, seiring tertangkapnya beberapa nama yang terpampang wajahnya dalam poster daftar pencarian orang. Nama yang tidak asing bagiku. Nama yang mengingatkanku akan Surani. Siapa Surani?  
Solo-Jogja, 26-November 2008-Maret 09
Potongan lirik lagu berjudul On Your Shore by Enya
by Abednego Afriadi (Dimuat di Buletin Litera terbitan Taman Budaya Jawa Tengah edisi 2009)

0 Response to "Pengubur Cincin"

Post a Comment

wdcfawqafwef