Tinggal satu rangkaian kereta yang biasa mengantarkanku
berangkat dan pulang kerja. Kau kadung berjanji menungguku di gerbong pertama.
Sudah kau tandai bangku sebelah dengan tas kerja, supaya tidak ada penumpang
lain mendampingimu selain aku. Biarlah kita bercengkerama ketika roda baja
menggilas rel, dan kereta merambat sampai ke kota Bengawan.
Ting tong teng teng
Bel bersahutan dengan suara petugas menyuruh penumpang
supaya naik ke gerbong. Aku berlari terengah-engah, menuju gerbong
pertama untuk mencarimu, lalu duduk di sampingmu. Peluit kondektur melengking
disambut klakson lokomotif, lalu menutuplah pintu otomatis. Kereta mulai
merambat pelan.
Kereta semakin jauh dari Jogja. Aku mengalah untuk
mengawali percakapan ini, ketika angin malam beraromakan jerami yang terbakar
berembus dari fentilasi, dan kerlap-kerlip lampu rumah-rumah di ujung hamparan
sawah berbaris selaksa pasukan kunang-kunang.
***
Dulu rambutmu tak sependek itu, dengan poni lempar, dan
stelan baju yang membuatmu nampak lima tahun lebih muda. Oh, iya, mungkin sudah
enam tahun kita tidak bertemu. Kau lulus kuliah di jurusan Komunikasi sedangkan
aku masih sibuk dengan panggung-panggung teater kampus. Dan kini kita malah
sering bertemu saat aku sudah beristri, dan kau sudah bersuami. Kau jadi humas
di sebuah kantor dinas pemerintah, sedangkan aku malah jadi editor buku
anak-anak di salah satu penerbit.
Kau tampak lebih cantik daripada saat bersamaku, satu
kamar kos, satu mimpi, satu jam tidur, dan segala kebrengsekan yang sengaja aku
ciptakan. Sekarang, aku sekadar ingin menebus kesalahanku padamu.
Meninggalkanmu ketika kau hamil, bahkan mengasuh anak sendiri. Dulu handphone
belum semurah sekarang, jadi aku hanya hafal alamat rumahmu. Entah, apakah
surat-surat kaleng dan uang yang kukirim lewat wesel sampai ke tanganmu?
Di gerbong kereta inilah, aku ingin berselingkuh dengan
segala kenangan. Namun, saat kuajak bersalaman, kau menolak. Cukup berdampingan
saja. Mungkin malam ini, di rangkaian kereta terakhir inilah, aku harus
menceritakan semuanya.
“Apakah surat-surat yang kukirim sampai ke tanganmu?”
Kau menggeleng dan mengangkat bahu, menandakan
ketidakmautahuanmu menjawab pertanyaanku.
“Bagaimana Kheisa, apa dia sehat?” kau terkejut. Dahimu
berkerenyit menandakan heran. Mungkin lantaran aku mengetahui nama anak kita.
Aha, kau pasti tak tahu, aku sering melacakmu lewat akun facebook palsuku.
Rupanya kau sudah lebih dulu memblokir setiap nama yang sama denganku.
“Baik,” sekata saja kau menjawab. Sungguh bukan jawaban
yang aku harapkan, seperti “dia menanyakan ayahnya.”
“Hanya Mas Karmin yang pantas jadi ayahnya. Mas Karmin
lah ayahnya. Dia mendampingiku ketika aku berada dalam jembatan kematian. Dia
semua yang mengurus, sampai sekarang ini. Pergi kamu bajingan!!!”
“Aku tak berniat buruk, aku ingin mengenalkan istriku
padamu. Lagi pula istriku suka anak kecil, kami belum dikaruniai anak.”
“Kau mandul?”
“Bukan, istriku yang mandul.”
“Enteng saja kau menuduh? Kau pikir Kheisa anakmu?”
Aku terdiam. Kereta sudah sampai di Purwosari, sepuluh
menit lagi tiba di Stasiun Balapan.
“Aku hanya ingin menjalin persaudaraan. Apa itu salah?”
“Persahabatan seperti apa yang kau inginkan? Perlu kau
tahu, Tuhan kirimkan Kheisa dari benih Mas Karmin. Meskipun waktu itu dia sama
sekali tidak menyentuhku,” jawabmu ketika kereta berhenti, kemudian kau
menghilang di antara penumpang yang bergerumbul menuju pintu keluar, diiringi
irama musik keroncong yang berjajar di sebelah utara pintu keluar.
***
Aku masuk ke gerbong pertama. Tak kutemui kau di bangku,
tempat biasa kau duduk. Kemudian aku menyusuri gerbong demi gerbong, hingga
gerbong terakhir, tak juga terlihat kau duduk. Sedangkan petugas kereta sudah
memaksaku untuk segera keluar. Tubuhku terhuyung hendak terlempar dari pintu
kereta otomatis itu.
“Tak ada Kheisa, tak ada aku. Tak ada pula kamu!”
teriakmu. “Enyahlah, aku sudah muak. Aku sudah mengalah. Kita tak pernah
bertemu. Apalagi menjalani percintaan menjijikkan seperti itu.”
Mungkin sudah terlalu capek kau melayani imajinasiku.
Juga saat aku memaksamu untuk masuk dalam imajinasiku. Kau memang terlalu
baik. Mau menemaniku di setiap pulang kerja. Dan sudi mendengarkan aku membaca
puisi-puisi gelap yang baru kusadari aku terlalu sok nyentrik, sok puitis. Kau
memang tak pernah ada. Di mana pun. Juga di gerbong kereta ini. Rangkaian
gerbong kereta terakhir. Ketika stasiun berangsur sepi, dan para gelandangan
mulai mencari tempat yang nyaman untuk merebahkan tubuh setelah seharian
mencari ronsokan, atau usai mabuk dari uang hasil mengamen.
Mungkin malam ini juga, aku akan menyerahkan diri ke
kantor polisi, dan mengakui bahwa aku telah membunuhmu usai para penumpang
meninggalkan stasiun. Di gang sempit sebelah stasiun itulah, aku akan
membunuhmu.
Polresta, 01.15
Wib.
“Bagaimana kronologinya?” tanya polisi sembari menekan
keyboard komputer hingga berbunyi clak clek clak clek.
“Saya pacaran terlalu lama, tapi dia meninggalkan saya?”
“Anda bunuh pakai apa? Pedang? Gunting? Racun? Silet? ”
“Tidak pakai apa-apa?”
“O Anda cekik? Pukul?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Dengan pikiran saya, Pak?”
“O, telepati? Sekarang korbannya di mana?”
“Mungkin sudah pulang ke rumah?”
“O…jadi dia tidak terbunuh, tapi Anda bunuh?”
“Iya, benar. Tapi dia mati?”
“Yang jelas! Dia mati atau tidak!!!!” bentak polisi itu.
“Dia mati dalam pikiran saya, khayalan saya. Artinya, dia
tetap mati kan?”
“Ah, ternyata….,” keluh petugas sembari menelpon rekannya
dari unit lain. Tak lama mereka menangkapku, memasukkanku ke dalam ruang
tahanan yang gelap, pengap, penuh rintihan tahanan yang kesakitan.
***
Bukankah aku sudah membunuhmu? Mengapa kau selalu datang
setiap malam? Mengajak bercinta, memaki-maki aku. Kemudian pergi lagi. Datang
lagi. Pergi lagi. Datang lagi. Pergi!!!!
Solo-Yogya, 3 Desember 2010
(Kedaulatan Rakyat, 9 Januari 2011)
0 Response to "Kereta Terakhir"
Post a Comment