Teste Teste Teste

Mata Uli


Jika melihat matanya, kau akan terisap ke dalam rongga panjang yang berkelok. Lantas, akan kau temukan pula silang sengkarut peristiwa yang tak masuk di akal. Bola matanya adalah bola mata ajaib. Bola mata dari seorang gadis yang pernah aku lihat berdiri di emperan toko. Bola mata yang bening tapi menyinarkan beragam warna cahaya.

Siapa Uli? Lahir di mana dia? Anak siapa? Tak ada yang tahu. Bahkan ketika para gelandangan sekitar toko tempat di mana Uli sering berdiri mematung. Mereka menjawab tak mengerti, ketika ditanya polisi. Mereka hanya kenal Uli karena setiap hari, anak-anak mereka bermain dengannya. “Biasa bermain petak umpat di sini,” kata salah seorang warga.

Seberapa bahaya Uli? Hingga dalam sebuah pidato di radio pemerintah, Pak Presiden menyerukan kepada warga kota, supaya tidak menatap mata acapkali berpapasan dengan seseorang. Terutama jika berpapasan dengan seorang gadis bernama Uli. Siapa orangtua Uli? Sudah kubilang, belum ada yang tahu.

Selain alasan keselamatan dari korban hipnotis, ada beberapa warga yang sudah melapor, bahwa ada yang muntah-muntah berak begitu melihat matanya. Ada yang demam tinggi, hingga lumpuh kakinya. Ada pula yang lemah syahwat, stroke usia muda, manupose, bahkan terancam kehilangan zat kekebalan tubuh. Ada seorang rentenir yang buah zakarnya meledak usai meminta tebusan tubuh anak gadis seorang pengutang, yang kebetulan sedang bermain di rumah itu.

Sudah berapa mata-mata mengintai? Sudah berapa polisi berseragam anti peluru berjaga-jaga di setiap sudut kota, pasar malam, mal, toko, dan taman-taman kota? Sudah berapa kampung memaksa warganya untuk kembali beronda secara bergiliran? Uli tidak pernah diketemukan. Sepertinya Uli tahu kalau sedang dicari polisi sehingga pergi dan meninggalkan dunia bermain yang lebih khayali kala senja menjingga di langit barat.

Siapa orang yang kali pertama Uli? Belum ada yang tahu secara pasti. Susah dilacak, karena semua yang pernah melihatnya pun lupa, tanggal berapa, dan jam berapa bertemu dengannya. Sekitar dua minggu lalu, sebulan lalu, setahun lalu, dua hari yang lalu? Aku juga tak mungkin. Aku mengenalnya lewat facebook. Semula aku hanya sekadar menambah pertemanan saja. Tapi sebulan kemudian tiba-tiba banyak yang berkomentar tentang Uli. Banyak yang mencaci maki, tapi banyak pula yang mengampuni karena usianya masih belia. Mungkin baru kelas satu SMP. Aku yakin itu hanya akun palsu, setelah ia dicari polisi. Mana mungkin Uli membuat facebook? Sekolah saja tidak.

Caci maki tak berhenti melontar di dinding facebooknya. Laporan demi laporan berduyun-duyun di ruangan kantor polisi. Semua mencari Uli. Entah, mereka yang pernah merasa dirugikan atau tidak. Tapi ada warga yang mengaku bertemu dengan Uli di salah satu rumah petak di bantaran sungai, di kolong jembatan, di emperan toko, di lapak-lapak koran, di sudut-sudut gang buntu, di pinggiran kota, di perempatan jalan, di rumah-rumah ibadah.

Semula banyak warga marah-marah jika ada yang membicarakan Uli. Seolah-olah mereka jadi ikut korban. Padahal tak ada satu pun dari mereka yang menjadi korban. Mereka hanya mengetahuinya setelah ada kabar dari mulut-ke mulut, juga berita-berita di koran, radio, dan televisi. Pernah terdengar kabar pula tentang seseorang yang melihat Uli. Saat itu juga amarah menyekam dalam dadanya. Kemudian menghampiri Uli. Tapi apa yang terjadi, orang itu tak jadi memarahi Uli, apalagi mencacimaki. Tiba-tiba orang itu lumpuh dan menangis sejadi-jadinya. Ada kabar pula di infotaintmen, seorang artis sempat bertemu dengannya tak lama kemudian ia pulang dan meminta cerai. Ada pula yang menjadi gila dan harus dilarikan ke rumah sakit jiwa.

Presiden pun dibuat gelisah. Kemudian memanggil Romy Rafael, Uya Kuya untuk menghipnotis matanya yang selalu basah oleh tangis yang tak pernah kering. Sorot matanya kembali menjadi hantu yang menakutkan. Karena air mata Uli serupa magnet yang menundukkan segala kesadaran. Orang-orang tiba-tiba terisap oleh kedua matanya, kemudian masuk ke dalam lorong yang berkelok, memerah dan panjang. Lorong yang penuh darah. Penuh kibasan pedang pembantaian, oleh peluru-peluru yang menembus tubuh-tubuh kurus yang memberontak. Penuh jerit dan tangis orang-orang yang dimassa, dibakar, bahkan diperkosa oleh segerombolan lelaki berambut cepak setengah telanjang. Di lorong itu juga kau lihat orang-orang berdasi di gedung-gedung bertingkat turun ke jalanan mengumumkan bahwa ia akan menari striptis seraya menyebar-nyebarkan uang. Katanya uang itu uang panas, sepanas tariannya yang kelewat seronok karena tertangkap oleh kamera wartawan.

Upaya penangkapan Uli menuai kontroversi. Ada yang menetang usaha penangkapan dari detasemen khusus anak-anak. Bukan soal Uli masih anak-anak, melainkan karena detasemen khusus itu terdiri dari anak-anak seusia Uli. Itu namanya kampanye eksploitasi anak, kampanye perang secara terang-terangan. Doktrinisasi perang di usia dini. Mengerikan. Sungguh sangat mengerikan. Sejak kecil anak-anak sudah pegang senjata, melakukan strategi penangkapan.
Lalu siapa lagi?

Bagaimana kalau biar detasemen khusus anti teror saja yang menangkapnya? Ah itu lebih parah lagi. Lebih tidak manusiawi. Namun, karena presiden sudah tidak mau berlama-lama, dan karena Uli serasa duri dalam daging negeri ini, maka ditetapkan, Uli adalah teroris. Foto-fotonya tersebar dalam daftar pencarian orang. Uli jadi DPO. Karena ada yang melapor menjadi korban mata Uli.
Ada yang melapor sambil menari. Kenapa melapor sambil menari? Karena saya disuruh Uli. Ada yang melapor sambil melepaskan satu persatu pakaian yang menempel. Ia adalah pemain sinetron yang kerap memerankan tokoh dengan aksesori orang alim. Mengapa kamu telanjang? Polisi itu bertanya. Eit. Entahlah tiba-tiba saya terisap oleh sorot matanya, dan saya seperti berada di dunia yang pengap, panas, dan sesak. Maka saya telanjang. Oh begitu. Jawab petugas seraya tak henti-hentinya membiarkan bola matanya menjamah ujung rambut sampai ujung jemari kaki perempuan itu. Lalu ada lagi yang mengaku menjadi korban Uli. Sejak menatap matanya ia tiba-tiba saja meminta cerai. Padahal suaminya itu sebelumnya adalah suami orang yang direbutnya. Yang sudah habis-habisan dipeloroti harta dan kekayaannya.

Seperti hal nya anak-anak, Uli bermain di taman kota. Mama bukankah itu Uli? Seorang anak yang ikut bermain di taman melihatnya.
“Awas!! Ada Uli!!”
“Awas Uli!!!”
“Uli awass!!!”
Orang-orang berlari meninggalkan taman kota. Rupanya ada yang melapor, maka sirine beberapa mobil patroli pun datang bersahutan menuju taman kota. Barisan polisi terdepan berderap serentak mengokang senapan, granat, dan basoka, seiring aba-aba seorang komandan berkumis sebesar gagang pesawat telepon. Tak ketinggalan pemadam kebakaran. Tapi apa yang terjadi? Barisan polisi itu terisap oleh kedua mata Uli dan menembak kan senapan ke langit yang biru dengan silau matahari. Namun, polisi tidak tinggal diam. Kepala kepolisian republik negara kesatuan mendatangkan Uya Kuya, Romy Rafael, juga Deddy Cobuser. Tapi apa yang terjadi? Hipnotis mereka tak mempan. Hingga langit gelap, hingga lampu-lampu berpendar, Uli masih berdiri di tengah taman kota. Kedua bola matanya menyala. Mukanya mendongak ke atas. Seperti proyektor, ia menyorotkan sinarnya ke atas.
Langit menjadi layar raksasa. Ribuan, bahkan jutaan pasang mata mendongak ke atas hingga lehernya lelah, maka memilih tertidur telentang. Mereka menangis ketika toko-toko, rumah-rumah, mobil-mobil  dan rumah ibadah dibakar, dirusak, dan dijarah. Orang-orang dikumpulkan untuk ditembak tanpa pengadilan, orang-orang dikejar diperkosa beramai-ramai. Tapi setelah itu mereka tertawa ketika layar berganti gambar orang-orang di gedung pemerintahan bertelanjang seperti tarzan di kamar-kamar hotel, lalu menggosok-gosok tubuhnya dengan berlembar-lembar uang. Mereka juga tertawa geli ketika melihat seseorang yang melarang wanita bercelana pendek sedang asyik menonton video artis yang telanjang yang bocor di internet. Tapi kemudian mereka marah ketika melihat seorang artis yang menjadi penghuni gedung pemerintahan mengecek kiriman milyaran rupiah di rekening di atm. Entah lah siapa yang mengiriminya uang? Mereka kian marah ketika seorang yang masih muda memasukkan uang ke dalam koper, lalu mengirimkan uang itu ke rekening siapa saja, sebelum akhirnya pergi ke luar negeri. Semakin marahlah mereka ketika mereka menyaksikan pemuda itu tadi keluar dari penjara setelah memberikan amplop tebal ke kantor seorang penjaga.

Orang-orang kian marah. Mereka menyerbu gedung-gedung, menyerang polisi. Polisi pun diperintahkan untuk membunuh Uli. Karena Uli dianggap biang keladi dari semua kerusuhan ini. Apalagi gambar-gamar menjengkelkan itu semakin merata di seluruh penjuru langit. Senapan pun sudah dikokang, dan komandan memberikan aba-aba menyerang. Butiran-butiran senapan pun menembus tubuh mungil itu hingga terkapar selaksa boneka yang terjatuh dan terpatah-patah. Tapi apa yang terjadi? Sorot mata Uli tak bisa ditutup. Siapapun yang menutup, akan buta. Dan tayangan-tayangan di penjuru langit pun serupa televisi yang enggan berhenti mengudara. Meskipun angin mulai berhempas-hempasan. Meskipun mendung pun kian pekat. Meskipun butiran-butiran air mulai merajam. Dan pemberontakan pun dimulai. Perang pun kian membara. Entah sampai kapan? Hanya Uli yang bisa menghentikannya. Lewat sorot matanya. Tapi Uli sudah terlanjur mati, dan sorot mata itu tak bisa dikendalikan sinarnya. Terus menayangkan gambar kebusukan-kebusukan itu. Tanpa sensor. Tanpa pembredelan.
Solo, November 2011
(Tabloid Minggu Pagi,edisi 2-8 Desember 2011 )

0 Response to "Mata Uli"

Post a Comment

wdcfawqafwef