Tak ada satu
pun kerangka atau mayat-mayat busuk tersisa. Liang kubur terbuka berantakan.
Kosong. Di mana jenazah-jenazah itu? Dicuri? Atau pergi sendiri? Ah tak
mungkin. Tak mungkin!
Petir serupa ekor naga yang membesat, menyambar pedang
para malaikat penjaga langit. Bergemuruh membelah gumpalan mendung yang
sebagian hitam, sebagian putih. Mendung terlalu sombong menghalangi singgasana
jutaan bintang dan galaksi.
Lampu padam. Nyala obor, lilin, dan senter redup menembus
celah-celah pintu, jendela, fentilasi dan sebagian gubuk-gubuk rumah penduduk.
Aroma hujan, tanah basah, dan limbah tahu yang memuakkan begitu kentara.
Apalagi pemakaman sebelah kampung yang tidak terurus bertahun-tahun ; kuburan
orang-orang yang diajak menjarah pertokoan, sepuluh tahun lalu, menyisakan
aroma mayat yang kadang-kadang menggelitik lambung untuk memuntahkan segala
macam makanan. Malam itu, ketakutan mencengkeram kami.
Setiap malam, kenthongan
dipukul bertalu-talu, peringatan agar tidak membuka pintu, jendela atau genting
; mengintip, apalagi keluar rumah. Setidaknya bakal ada salah satu anggota
keluarga yang hilang tanpa jejak, jika tetap nekat. Sudah hampir sepuluh keluarga
kehilangan anak, suami, dan istri.
***
Pagi begitu bening setelah semalam diguyur hujan. Usai
kerja bakti membersihkan selokan yang tersumbat sampah, kami baru memulai
pembicaraan. Saat itu, Mbah Joko Gembok, juru kunci pemakaman umum sebelah
kampung menceritakan, bahwa beberapa warga pernah datang ke tengah-tengah
kuburan tanpa alasan.
”Kenapa tak kau beri tahu kami?”
”Saya juga tak habis pikir, sejak itu tak pernah saya
lihat mereka keluar. Saya pikir mereka ziarah di makam Eyang Restu. Apa mungkin
saat mereka keluar saya tertidur?”
”Penculikan?” tanya Pak Rt penuh curiga.
”Ah, ada urusan apa? Warga tak pernah sekalipun ikut
demo, dan aktif jadi kader organisasi yang bertentangan dengan pemerintah,”
sahutku.
”Mungkin mereka mencurinya. Tapi ada firasat tak enak,
apa mungkin mayat-mayat itu bangkit kembali?” jawab Mbah Joko Gembok dengan
tenang. ”Pertanda apa ini?”
Sesuai dengan rapat yang digelar, kami sepakat malam itu
berkumpul di Balai Kampung. Empat orang satgas bersenjatakan pentungan menjaga
mereka. Tidak boleh ada satupun warga yang nekat mendekam di rumah. Semua
dikunci di Balai Kampung. Sedangkan bapak-bapak dan beberapa pemuda serentak
menuju pemakaman umum. Sebagian membawa obor, sebagian membawa kenthongan. Di barisan depan,
samping, dan belakang berjaga-jaga bersenjatakan klewang, sabit, pisau dapur,
pisau cukur, gunting, gobang, pedang, cemiti, silet, dan jarum. Sedangkan Mbah
Joko Gembok hanya bergumam merapalkan mantera tolak balak.
Hujan sudah berhenti. Tinggal beberapa butir tersisa di
setiap helai daun. Mantel hujan enggan kami copot. Angin berisik kadang
menjatuhkannya. Sedikit gentar pula sebagian pemuda ketika kaki mereka
menginjak tanah pemakaman yang basah, becek dan dingin. Mereka mulai frustasi
dan berteriak seperti kesurupan.
***
Sejak hilangnya beberapa warga, kami tak pernah pergi ke
kota yang telah luluh lantak. Tarian mayat-mayat membuat beberapa warga kota
mengungsi ke kampung kami, sebelum air bah menerjemahkan kutuk. Kebetulan
kampung pinggiran kota ini letaknya lebih tinggi. Apalagi karena para mayat
memilih tinggal di gorong-gorong, selokan, bendungan, sungai, sumur, wc umum,
tempat-tempat ibadah, sekolah-sekolah, universitas, rumah sakit, kantor polisi,
kantor pengadilan, kantor kejaksaan, kantor kelurahan, kantor kecamatan, kantor
balaikota, gedung pertunjukan, hotel-hotel, deskotik, kantor walikota, bus-bus
kota, alun-alun, mall-mall, supermarket,
kaki lima, angkutan kota, becak, taksi, pasar-pasar, sampai truk sayur.
Barisan mayat itu tak lagi punya persinggahan. Mungkin
jika terpaksa, mereka akan menjalar ke pedesaan hingga tempat-tempat terpencil
yang jauh dari peradaban seperti wabah. Karena seluruh penjuru kota penuh sesak
berebut kematian. Mereka menyakiti diri sendiri, saling membunuh, tapi tidak
mati-mati juga. Mereka minum segala macam racun, alkohol berkadar 99 persen,
tapi tak juga mati. Mereka rela bersetubuh dengan virus-virus binatang, tapi
tak juga mati. Mereka memotong-motong tangan, kaki, dan lehernya sendiri, tapi
tersambung kembali tanpa diminta.
Gedung-gedung telah rubuh, petir merembet ke tubuh
mereka, tapi tetaplah mereka mayat yang hidup, berjalan bergeleyotan serupa
pemabuk arak, menyisakan becek dan lengket daging busuknya.
Jutaan ekor pemburu bangkai mengitari langit, mencari
mayat-mayat untuk disantap. Tapi tak seekor pun selamat, dan akhirnya malah
jadi santapan para mayat. Jerit doa-doa dan mantera kian bersahutan. Tapi
mayat-mayat itu malah kian mengejek dengan wajah yang menyeramkan. Sebagian
membusuk, tapi masih hidup. Mayat-mayat kian berkembang, bersetubuh, melahirkan
anak. Begitu seterusnya. Anak-anak mereka bertumbuh cepat menjadi besar seperti
ayah dan ibunya.
***
Setiba di kompleks pemakaman, kami terperangah memandang
nisan-nisan hancur terbongkar. Tak ada satu pun kerangka atau mayat-mayat busuk
tersisa. Liang kubur kosong.
”Di mana jenazah-jenazah itu?”
”Dicuri?”
”Atau pergi sendiri?”
”Ah tak mungkin.”
Tubuh kami gemetar. Sebagian terkencing-kencing di
celana. Sedangkan kami harus melanjutkan perjalanan ke kota. Mbah Joko Gembok
memimpin. Semangatnya itulah yang membuat kami tak gentar menghadapi jutaan
mayat di kota. Kami merasa malu, apalagi para pemuda melihat keberaniannya
menyusuri desiran angin yang terasa dingin menyeramkan.
Mbah Joko Gembok bukanlah mantan tentara pejuang, atau
anggota sanggar beladiri tenaga dalam. Tubuhnya pendek, badannya kurus. Selalu
ia menyapa siapa saja dengan sebutan Gus. Sikap yang membuat kami tiba-tiba
sungkan.
Setiba di kota, seluruh pasang mata jutaan mayat membidik
kami. Kami menyusuri sudut-sudut kota. Mbah Joko Gembok hanya bergumam
menembang, dan kami pun mengikutinya dengan memukul kenthongan bertalu-talu, serupa irama takbir di malam
Lebaran, serupa nyanyian yang meminta Setan Wewe Gombel untuk mengembalikan
seorang anak yang diculik dan diberinya susu dari buah dadanya yang sebesar
gentong. Dan kami pun juga serempak menembang, dengan irama yang tidak
selazimnya digunakan untuk tembang seliris itu.
Mayat-mayat menyingkir. Sebagian musnah, sebagian
berhenti bersetubuh di jalan-jalan. Sebagian berarak mengikuti kami dengan
tangisan yang mengiris-iris hati. Kami berharap sebagian warga mengikuti kami
untuk pulang kembali di kampung pinggiran.
Hujan merajam kian deras. Mayat-mayat sebagian terseret
air. Sebagian mengikuti kami. Mbah Joko Gembok tak henti-hentinya menatap sosok
wanita cantik yang kisut wajahnya, menggendong seorang bayi berkulit keriput
serupa jeruk purut. Mereka tersenyum sinis. Menatap kami. Sepasang taringnya
tak bisa bersembunyi dari mulutnya yang mungil dan berlendir. Matanya semerah
kulit matang melinjo. Amis lendir hidung dan telinganya mengundang laler ijo. Mungkin mereka
masih ingin menghinggapi salah satu atau beberapa orang dari rombongan.
Kenthongan terus bertalu.
Perempuan itu kian menjauh, meninggalkan anaknya yang merangkak licik. Sesekali
ingin menoleh mengisyaratkan ajakannya berenang di lembah lava pijar, di
kerak-kerak bumi. Mungkin ia putus asa. Mungkin baginya pembalasan dalam alam
arwah tidak begitu berarti, dan hanya akan menjadi dongeng horor yang
menakutkan anak-anak kecil.
Kami memang harus mengusir mayat-mayat itu, jika perlu
memusnahkannya. Sebab mereka sudah mulai kencing dan buang air besar di
sembarang tempat. Segala kotoran yang keluar dari tubunya meresap ke tanah,
merasuk ke air-air sumur. Hingga air yang kami minum serasa bangkai, nasi yang
kami makan pun juga serasa daging yang telah membusuk. Maka jangan salahkan
kami jika kami selalu muntah-muntah usai makan dan minum.
Dan tubuh kami pun perlahan ikut membangkai. Semula hanya
beberapa bagian saja, tapi sehari saja hampir separuh tubuh kami membusuk. Bagi
mereka yang lemah satu persatu tubuhnya akan terlepas. Mulai dari kepala,
tangan, kaki, hingga jari jemari. Bayi-bayi pun membangkai karena menetek
ibunya yang telah membangkai. Saban hari lidah anak-anak itu mencecap, kemudian
mereguk busuk air susu.
Tak ampuh lagi mantera, rapal doa menolak wabah itu.
Bahkan, Mbah Joko Gembok pun sudah membangkai, lalu musnah begitu saja. Tak ada
lagi panutan untuk kami. Kami kalap.
Dan kubur-kubur kosong pun kian bertambah, sebab
mayat-mayat mulai membongkar kuburannya sendiri, menghancurkan nisan-nisan
bisu, lalu bergeleyotan mencari kemusnahan. Kami ingin segera musnah saja. Di
kota ini, orang-orang merintih, meraung kesakitan. Jika saja kau mendengar,
hatimu akan teriris, tapi semilyar pun uang mu, gajimu, tak akan mampu
memulihkannya. Karena tak ada vaksin yang sanggup melawan pembangkaian ini.
Mungkin tak lama lagi, kota kami tidak lagi membutuhkan
kuburan. Sebab kami adalah bangkai yang akan musnah dengan sendirinya.
Lihatlah! Orang-orang yang duduk di kantor-kantor pemerintahan, polisi,
tentara, rumah sakit, rumah ibadah, kampus, rumah makan, gedung olahraga, balai
desa! Mereka juga membangkai. Meski ada satu anggota yang melawan, tapi
tetaplah pasti terular wabah itu. Wabah bangkai. Tak lama lagi, kami akan
punah. Solo-Yogjakarta,
November 2010
(Jawa Pos, 8 Mei 2011)
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete