Kemarau tak juga pergi meskipun sudah semestinya beranjak dari udara. Tanah-tanah kering seolah sudah menyatu dengan tubuhnya yang keriput. Namun, Nek Minah selalu terkuras air matanya acap kali rembulan nampak bundar pucat.
Tapi malam ini debu kemarau tak nampak
bertebaran. Gambar gerak angin seperti terbunuh oleh gelap. Arum masih duduk di
bangku bambu pelataran rumah. Hitam sebahu rambutnya dan putih kain bajunya tertiup
angin. Sorot matanya sedikit mendelik seperti hendak mengusir sapuan awan hitam
yang menghalangi sinar rembulan. Bahkan ia meniup awan itu.
“Mengapa kamu tak juga tidur?”
“Aku menunggu rembulan Nek.”
“Biarkan saja. Memang sudah tugasnya
meremangi malam.”
“Arum lapar Nek,” jawab arum sembari
memegang perutnya sendiri.
“Hus, tadi kan sudah makan? Masa lapar
lagi? Padahal belum 4 bulan lalu kamu minum obat cacing?”
“Entahlah Nek. Arum jadi ingin makan
bulan itu setiap malam.”
“Arum!!” bentak Nek Minah seraya
mengacung-acungkan kayu pertanda akan memukul pantatnya jika tetap nekat tidak
mau masuk ke rumah. Arum pun masuk ke rumah dengan wajah murung.
***
Di ranjang bambu beralaskan tikar, Nek
Minah pura-pura tidur. Sesekali matanya melirik ke kamar Arum yang hanya
ditutupi korden motif kembang-kembang berwarna merah. Siang memang sepanas bara,
tapi tidak untuk malamnya. Dingin menggigit. Sedetik saja mata terpejam, ia
akan menutup tubuhnya yang meringkuk dengan selimut jarik nan lusuh. Lalu
matanya tertutup tenang.
Telapak kaki para peziarah terdengar
seperti daun yang berserak-serak oleh angin. Nek Minah terjaga. Sudah seperti
biasa, setiap tengah malam ia selalu memastikan pintu dan jendela telah
terkunci. Tapi ia terkejut setelah melihat pintu belakang rumah terbuka. Lalu
dia mencoba masuk ke kamar Arum. Hanya selimut dan guling yang nampak
berantakan di atas ranjang. Arum telah pergi.
“Duh Gusti, kemana ini Arum? Pergi ke
mana kamu ngger???” batin Nek Minah lalu
ke luar rumah lewat pintu yang telah terbuka. Di lewatinya setapak jalan yang
menghubungkan rumah itu dengan puncak bukit yang hanya berjarak tiga ratus
meter dari rumahnya. Benar memang, Arum berada di tempat itu. Duduk di
sebongkah batu, memandang hamparan pijaran cahaya kota di malam yang gemerlap.
Nampak pula, Arum sedang memegang sebuah benda berbentuk bulat, dan bercahaya.
“Bukankah itu rembulan? Pantas malam ini nampak gelap saja?” batin Nek Minah.
Semakin dekat Arum membawa bulan itu
hingga wajahnya yang tirus terpantul cahaya yang remang. “Duh Gusti, cucuku ini
nampak ayu, seperti Minten. Sudah besar rupanya, seperti baru Lebaran kemarin
Minten membawanya sepulang dari Malaysia,” batin Nek Minah. “Arum?” seru Nek Minah
begitu mulut Arum terbuka menampakkan taringnya seperti hendak menelan rembulan
itu. Arum menoleh ke belakang lalu dengan cekatan melemparkan rembulan itu
hingga naik ke atas, kembali tempat semula.
“Biarkan rembulan itu di tempatnya!”
pinta Nek Minah. Kepala Arum menunduk. Pundaknya bergoyang naik turun.
Tangisnya terdengar lirih. Pun demikian Nek Minah. “Maafkan Nenek ya nduk?” kata Nek Minah seraya menghampiri
Arum untuk kemudian memeluknya. Dadanya sesak oleh sesal karena semenjak kecil
ia mengatakan bahwa ayahnya adalah jelmaan Betara Kala yang selalu menggerhanakan
rembulan, karena begitu marahnya Nek Midah kepada seorang lelaki yang membuat
Minten hamil dan meninggalkannya begitu saja.
***
Sudah beberapa malam ini Arum mudah
tertidur. Tidak seperti biasanya yang harus berlama-lama menatap rembulan di
atas bukit untuk menggapainya, kemudian menelannya hingga habis, hingga langit
pun menghitam. Dalam tidurnya Arum terjaga, kemudian keluar rumah mengikuti
ibunya, Minten. Arum tersenyum merekah, seperti menemukan kerinduan yang
teramat dalam. Minten memeluknya erat-erat. Berlelehanlah air mata mereka oleh
rindu. Oh, malam yang membisik, malam yang menangis, malam yang ditaburi
butir-butir kerinduan yang terpecah.
Namun, tiba-tiba saja, sosok Minten yang
cukup lama dipeluknya itu menjadi butiran-butiran cahaya yang kemudian memecah,
hilang karena terhembus oleh suara-suara yang mengolok-oloknya.
“Dasar anak buto, dasar ana Betara Kala,
pemakan bulan, ihh lihat taringnya,” seru suara-suara itu.
“Pakai baju bagus ya tetap
bertaring..Hiii..takuutt,” ejek mereka.
“Nanti kalau gerhana kita tak usah
memukul kenthongan, cukup mencarinya
saja. Sudah pasti dimakannya.”
Mereka ada yang anak-anak seusianya, tapi
juga orang tua yang tersenyum sinis melihatnya ketika mengenakan baju baru
kiriman Miten jika Lebaran tiba. Arum pun berteriak, dan baru sadar akan mimpi
yang dilaluinya. Dalam benak Arum ingin menghapus peristiwa itu dalam ingatan.
Ia ingin membuangnya jauh-jauh di laut terdalam. Tapi, peristiwa itu selalu
menyelinap di dalam alam bawah sadarnya. Melintas begitu saja. Terjadi begitu
saja. Dalam waktu yang sesingkat itu. Ketika ia lelah. Ketika tubuhnya mulai
mendekap guling.
***
Pada malam yang lain. Malam yang masih
berpijaran bintang-bintang. Arum berjalan mengendap-endap menuju puncak bukit
seraya menenteng sebuah cangkul. Angin kemarau berdesau seperti denging nafas
orang tertidur. Semakin ke puncak, angin semakin menderu bersama sisa-sisa debu
perbukitan berkapur. Mata Arum mendongak ke atas, membiarkan rambutnya tergerai
tak beraturan. Diambilnya bulan bulat pucat itu, lantas diletakkannya di tanah
kering berpadas. Perlahan tapi pasti, Arum menggali tanah itu. Tanah yang
terlalu keras untuk empasan cangkul dari tangan mungilnya. Hingga ayam jantan
berkokok, angin tak juga mengeringkan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
Rembulan yang diletakkannya itu sudah
mulai redup karena pagi segera datang. Rembulan tak mungkin melawan takdir jika
ia tetap bersinar cerah pada pagi hari. Bisa jadi matahari akan marah, dan
melumatnya. Kemudian Arum lekas-lekas memasukkan rembulan itu ke dalam lubang,
lalu menguburnya. Tak sampai pagi ia menuruni bukit itu, sambil menenteng
sebuah cangkul.
Sampai di rumah, Arum berjalan
mengendap-endap karena tahu suara batuk Nek Minah. Ia berhasil masuk kamar,
kemudian tertidur. Nampak pulas ia melepas lelah semalam, tak pedulikan sisa
debu dan tanah putih yang mengotori baju, tangan, kaki, dan mukanya.
Sementara itu Nek Minah terbangun.
Seperti biasa, ia selalu menengok Arum di kamarnya. Disingkapkannya korden
kamar Arum. Ia terperanjat, dan menghindari silau yang teramat terang. Tubuh
Arum yang terbaring itu nampak terang benderang. Wajahnya yang ayu semakin
jelas terlihat oleh matanya yang sedikit rabun. Mungkin rembulan itu bangkit
dari kuburnya lalu mengikutinya. Mungkin karena terlalu lelap, ia mengigau dan
menelan rembulan itu.
Dengan masih menahan silau dengan tanga
di kedua matanya, Nek Minah menghampiri Arum. Saat Arum terbangun, cahaya itu
lenyap seketika. Dahi Nek Minah berkerut. “Mengapa cahaya tadi hilang?”
“Cahaya apa, Nek?” tanya Arum seraya
mengusap-usap kelopak matanya yang masih nampak berat untuk dibuka.
“Jadi, malam tadi kamu enggak ke
mana-mana to?”
“Kemana sih Nek? Arum kan tidur,” jawab
Arum dengan suara yang masih serak.
“Oh, ya sudah,” jawab Nek Minah.
“Semoga saja, serapah marahku padanya
tak mengandung mantera,” batin Nek Minah. “Lagipula mana mungkin ia menelan
rembulan? Mana mungkin ia memamahnya? Mana mungkin giginya bertaring? Aneh-aneh
saja mimpiku ini,” batinnya sembar mulai membuka jendela-jendela yang terkunci,
karena pagi sudah datang.
***
Pada
malam yang lain, Arum terlelap di antara buku-buku pelajaran yang berserakan di
ranjang kamar berdinding kayu dan beralaskan tanah. Nek Minah terbangun
sendiri. Dan terkejut karena kamar itu sangat terang. Menerangi tubuh Arum.
Berkali-kali ia mengusap kedua matanya. Kamar Arum masih menyala.
Nek Minah menghampiri Arum. Saat Arum
terbangun, cahaya itu lenyap seketika. Dahi Nek Minah berkerut. “Mengapa cahaya
tadi hilang?”
“Cahaya? Cahaya apa sih, Nek?” tanya
Arum seraya mengusap-usap kelopak matanya yang masih nampak berat untuk dibuka.
“Firasat apa ini?”
06.49, Solo, 16
Agustus 2011
by Abednego Afriadi

0 Response to "Rembulan di Kamar Arum"
Post a Comment