Jendela
kamar kau biarkan terbuka. Kau duduk di tepi ranjang menghadap ke
hamparan sawah. Sepertinya kau sengaja enggan memandangku sehingga
hanya kulihat hitam panjang rambutmu tergerai. Lirih sedu tangismu
terdengar bersahutan dengan suara tokek di kamar kita.
Sisa
letih dari kantor enggan pergi, meski hangat air dari shower sudah
menguapkannya, meski manis dan kental teh hangat seduhanmu aku reguk
hingga separo gelas, meski sedap sup galantin masakanmu aku santap untuk
mengganjal perutku yang lapar.
Kemurungan dan
kesedihanmu adalah kemurungan dan kesedihanku. Sudah sepuluh tahun ini,
ranjang kamar menjadikanmu tulang rusuk yang menguatkanku ketika
rapuh. Maka jangan heran jika aku pun lemah ketika kau lemah. Maka
janganlah terkejut jika aku tertawa ketika kau gembira.
“Apa kamu masih merasa bahwa, aku ini tulang rusukmu?”
“Pertanyaan aneh,” jawabku.
“Ya, sudah sepuluh tahun.”
“Kau masih menundanya?”
Aku
hanya bisa menghela nafas. Selalu berat mulut ini jika akan menjawab.
Kelu lidah ini. Terkeram isi otak ini. Malam jadi beku.
***
Hamparan
sawah luas memaksa mataku menuju jalan setapak ke arah yang tak
berujung. Dengarlah, nyanyian syahdu para pendoa di gasebo masih
terngiang di telinga kita. Mari kita susuri. Mumpung angin tak sedang
berisik. Mumpung langit terang gemintang.
“Suaramu merdu,
lagu yang kau nyanyikan indah, lirik yang kau tulis memabukkan!”
bisikmu. “Malam ini aku ingin menyalakan cinta di kamar.”
Sepertinya
kau tak tahan dengan dingin angin malam yang tiba-tiba saja berembus
tanpa permisi. Padahal jutaan bintang nampak abyor dan bulan sabit
berselendangkan semburat awan di hamparan permadani nan hitam. Lukisan
malam yang dulu sering kau jadikan puisi untukku.
Pintu
kamar kubuka. Kita masuk setelah terdengar dengkur pulas di setiap
rumah-rumah dan tayangan bola di televisi telah usai. Kau matikan
lampu. Lantunan “Forever in Love” Keny G kaubiarkan mengalun dari balik
speaker aktif komputer di kamar kita yang berhias foto-foto pernikahan
yang menempel di tembok-tembok.
Kau memelukku. Aku
rasakan detak jantungmu. Apakah kau rasakan juga detak jantungku? Kau
menatapku. Semakin jelas wajahmu tersiram oleh cahaya rembulan yang
mengintip dari jendela. Aku semakin dekatkan tubuhku ke tubuhmu. Kau
mundur perlahan-lahan. Kau tunjukkan sebatang lilin yang sebelumnya kau
sembunyikan dari balik punggungmu yang putih mulus bak pualam. Kau
nyalakan lilin itu, kemudian kau taruh berdiri di telapak tangan kiri.
Semakin jelaslah sorot matamu yang sendu, dengan bulu mata yang lentik.
Semakin jelaslah pula garis wajahmu yang tirus, dengan hidung mungil
nan mancung, dan dagu yang nampak terbelah jika tersenyum.
“Jika lilin ini kau biarkan menyala, aku akan pulang ke rumah orang tuaku!”
“Sista, jangan macam-macam! Nanti tanganmu terbakar!”
“Jika
kau padamkan, berarti kau mengerti cintaku. Aku akan berkorban demi
sebuah jawaban,” katamu sembari menahan rasa panas yang kian menyengat
saat lelehan lilin menetes tanpa bisa dibendung.
“Sista, gila
kamu!” kataku sembari meniup lilin itu. Namun, kau mengambil sebilah
pisau lipat yang kau simpan di balik kutang. Kemudian menyayatkannya di
leher, tengkuk, telinga, bibirmu. Darah menetes.Selebihnya selesai.
Selebihnya kau menutup mulut hingga terlelap memunggungiku. Kira-kira
sudah sepuluh tahun ini kau selalu begitu.
“Mengapa kau tak pernah menciumku?”
“Pernah ketika janji di altar.”
“Mengapa kau sering meninggalkanku sendirian di kamar? Dan kau memilih tidur di kursi tamu? Kau selalu mengigau tak karuan.”
Aku hanya bisa menggeleng.
***
Seperti
malam ketika aku pulang dari kantor, kau terlebih dulu duduk di ujung
ranjang memunggungiku, menghadap ke jendela. Dan sedu sedan aku dengar
bersahutan dengan suara tikus yang bercericit di atap rumah.
Mungkin
malam ini akan aku ungkapkan jawaban yang tepat, dan dengan bahasa
yang telah aku tata sedemikian rupa. Aku pernah mengenal seorang gadis
sepertimu. Itu perlu kau tahu kenapa aku memilihmu. Aku merasa kau
adalah dia, dan dia adalah kau. Maka aku tak mungkin berani mencumbumu.
Gadis
itu kukenal ketika kami sama-sama diterima kuliah di kota ini. Kota
dengan bunga-bunga yang dibiarkan berguguran di jalanan. Aku sering
mengiriminya puisi. Gadis itu paling suka puisi tentang cinta yang
sederhana, tentang cinta yang seperti api yang mejadikan abu kepada
kayu, seperti hujan yang menjadikan awan tiada. Yah, puisi penyair itu.
Penyair yang hingga kisah ini kutulis pun masih ada. Aku pun sering
menyanyikan lagu cinta untukmu. Lagu cinta yang tak cengeng. Lagu cinta
yang jujur bahkan penuh makian. Mencaci maki perasaan cintanya.
Tapi
puisi-puisi itu telah musnah. Lagu-lagu cinta itu juga lenyap dibawa
oleh angin. Sehingga kami sering bercinta. Bercinta dan bercinta. Tanpa
kata-kata. Gerak tubuh kami telah menjadi bahasa. Kami pikir itulah
bahasa cinta. Hingga bahasa cinta itupun mengandung bahasa. Tapi bahasa
itu telah mati kala gadis itu hendak melahirkannya. Tubuh bahasa itu
telah rapuh, juga tubuhnya.
Seperti aku bilang tadi. Kamu
adalah ia, dan ia adalah kamu. Aku tak ingin bahasa kita mati. Maka,
aku memilih seorang lelaki untuk berbahasa cinta. Supaya kau tak
mengandung lagi. Supaya kau tak mati. Karena lelaki itu tak mungkin
melahirkan.
Tapi tunggulah, berharaplah, berdoalah, supaya
jika kita berbahasa cinta, bahasa yang kau lahirkan tak akan mati.
Semoga saja. Sebab aku tak ingin kau selalu bersedu sedan ketika aku
pulang. Sebab aku masih ingin menjadi lelaki sejati. Sebab aku hanya
milikmu. Sebab aku milik Tuhan.
Apakah kau paham dengan
pengakuanku ini? Apakah kau bingung? Tetapi tunggulah! Tengah malam
nanti akan aku buktikan bahwa aku tak lagi berbahasa cinta dengan
lelaki. Meski tubuh ini letih, dan jendela kamar nan sunyi ini kubiarkan
terbuka. Tolong, sebarkan bunga-bunga harum di kamar kita!
Solo, September 2011
by Abednego Afriadi
(Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 16 Oktober 2011)

0 Response to "Jendela Kesunyian"
Post a Comment